Showing posts with label Kisah Para Nabi. Show all posts
Showing posts with label Kisah Para Nabi. Show all posts

Kisah Nabi Idris a.s.


Ibn 'Abbas ra mengatakan, Allah mengutus Idris kepada keturunan Qabil yang menyembah berhala dan menyimpang dari mentauhidkan Allah. Mereka memiliki lima berhala yang mereka sembah selain Allah, yaitu wud, siwa, yaghuts, ya'uq dan nasr, yang disinggung oleh Allah di dalam AlQuran yang agung. Ketika kebobrokan mereka kian bertambah, Allah mengutus Idris as kepada mereka. Dia mendakwahi mereka dalam jamaah dalam tiga hari.

Dalam memerintah dan melarang, Idris as sangat keras. Dia adalah orang yang pertama kali menulis dengan qalam (pena), orang pertama yang menulis suhuf, orang pertama yang mengerti ilmu nujum dan ahli perhitungan, dan orang pertama yang menjahit pakaian dan memakai jarum. Apabila menjahit, dalam setiap tusukan jarum dia bertasbih kepada Allah. Apabila lupa, jahitannya yang tidak disertai dengan tasbih kepada Allah dia udar kembali. Dia adalah orang yang tidak mau makan kecuali dari hasil usahanya. Dia suka menjahit milik orang dengan mendapatkan upah dan dia adalah orang yang pertama membuat takaran.

Dikatakan bahwa, sebelum zaman Idris, manusia memakai kain tanpa dijahit. Setelah Idris menciptakan jahitan dan menjahitnya, orang-orang menganggapnya bagus, dan mereka pun ikut menggunakan bahan pakaian yang dijahit.

Selanjutnya, Idris diberi tiga puluh suhuf oleh Allah. Dia tidak pernah lesu membacanya, siang dan malam. Para malaikat suka datang untuk mushafahah (bersalaman) dengan Idris. Setiap hari, ibadah Idris dilaporkan seukuran ibadah seluruh manusia. Karena saking banyaknya ibadah Idris, sampai-sampai malaikat merasa takjub kepadanya dan karenanya didengki oleh Iblis terlaknat. Akan tetapi, Iblis tidak menemukan cara untuk memperdayainya.

Diriwayatkan bahwa Malaikat Maut meminta izin kepada Tuhannya untuk berziarah kepada Idris. Dia diizinkan, lalu datang kepada Idris dalam rupa seorang laki-laki. Idris bertanya kepadanya, 'Hai laki-laki, siapa engkau?' Laki-laki itu menjawab, 'Aku adalah Malaikat Maut; aku telah meminta izin kepada Tuhanku untuk berziarah kepadamu, maka berikanlah aku izin untuk itu!' Idris berkata kepadanya, 'Sesungguhnya aku mempunyai satu keperluan kepadamu,' Dia bertanya,' Apa keperluanmu itu?' Idris menjawab, 'Cabutlah nyawaku saat ini!' Malaikat Maut berkata, 'Sesungguhnya Tuhanku belum mengizinkanku untuk melakukan itu.'

Pada waktu itu, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut, 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang ada dalam benak hamba-Ku; cabutlah ruhnya!' Karena telah mendpat izin, maka pada waktu itu juga dia mencabut ruhnya. Akan tetapi, kemudian Allah menghidupkannya lagi ketika itu juga. Idris berkata, 'Hai Malaikat Maut, aku masih punya permintaan yang lain.' Dia menjawab, 'Apa itu?' Idris berkata, 'Bawalah aku ke neraka Jahannam agar aku bisa melihat kengeriannya!' Allah mengizinkan Malaikat Maut untuk melakukan perjalanan itu. Maka, dibawalah Idris oleh Malaikat Maut datang ke malaikat penjaga neraka.

Allah memerintahkan kepada malaikat penjaga neraka, 'Letakkan hamba-Ku di pinggir Jahannam agar dia bisa melihat apa yang terdapat di dalamnya.' Setelah Idris berada di sana dan melihat isi Jahannam, dia pingsan karena melihat kengeriannya. Lalu Malaikat Maut menghampirinya dan membawanya lagi ke tempat asalnya. Semenjak melakukan perjalanan ke neraka Jahannam tersebut, dari mulai hari itu Idris tidak memakai cela di matanya menjelang tidur, tidak bersenang-senang dengan makanan yang enak-enak dan minuman yang lezat, dan tidak memiliki tempat tinggal yang tetap karena kengerian yang pernah dia lihat.

Idris mencurahkan diri beribadah kepada Allah dan menikah dengan seorang wanita yang kemudian mengandung anak laki-laki. Setelah anak itu terlahir, dia diberi nama Matusyilakh dan cahaya yang ada di kening Idris pindah ke kening anaknya. Setelah anak itu besar, dia diberi wasiat oleh Idris, diserahi suhuf, tali dan tabut; dan dia diwasiati agar membaca suhuf dan selalu mendirikan shalat. Idris bekata kepadanya, 'Hai anakku, aku akan naik ke langit. Aku tidak tahu apakah akan kembali atau tidak. Maka, terimalah dariku apa yang akan kuwasiatkan kepadamu.'

Kemudian Idris masuk ke mihrabnya dan meminta kepada Allah agar diperlihatkan surga seperti Dia telah memperlihatkan neraka. Atas permintaan Idris tersebut, Allah memerintahkan kepada Ridhwan, malaikat penjaga surga untuk menurunkan sebuah tangkai dari surga. Maka, Ridhwan menurunkan tangkai dari pohon Thuba. Kemudian Idris berpegang ke tangkai itu dan naik ke langit. Lalu Ridhwan memasukkannya ke dalam surga. Idris melihat nikmat-nikmat yang ada disana. Setelah cukup lama berada di dalam surga, Ridhwan berkata, 'Silahkan keluar!, Engkau telah melihat surga dan isinya.'

Idris berkata, 'Aku tidak akan keluar.
Allah berfirman:

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati (QS 3:185, 21:35, 29:57)

Dan aku pun telah merasakannya.
Allah berfirman:

Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan mendatangi neraka itu (QS 19:71)

Dan aku pernah mendatanginya

Allah pun berfirman

Dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya(surga) (QS 15:48)

Maka aku tidak akan keluar dari surga. Maka Allah mewahyukan kepada RIdhwan, 'Katakanlah kepada hamba-Ku, Idris, hendaklah dia jangan keluar dari surga untuk selama-lamanya.'

Wahab bin Munabbih mengatakan, Idris telah naik ke langit ketika dia berumur 365 tahun. Ibn al-Jauzi mengatakan bahwa Idris dan Isa bin Maryam hidup di langit. Terkadang Idris berada di langit keempat untuk beribadah kepada Allah dan terkadang bersenang-senang di surga.

Allah berfirman:

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam AlQuran. Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi (QS 19:56-57)
dodidananggie kos setiabudi bandung Updated at: 5:38 PM

Kisah Cincin Sulaiman bin Dawud a.s


Wahab bin Munnabbih mengatakan, Sulaiman senantiasa memakai cincin di jarinya. Dia tidak pernah melepaskannya siang dan malam. Apabila masuk ke toilet, dia mencopotnya dan menitipkan kepada orang yang dipercayainya. Pada cincin tersebut tertulis ismul A'zham (nama Allah yang Agung). Pada suatu ketika, dia mencopot cincin tersebut dan menitipkannya kepada seorang hamba sahaya wanita. Salah seorang setan datang kepada hamba sahaya tersebut dalam rupa Sulaiman. Si hamba sahaya tidak meragukan lagi orang itu adalah Sulaiman. Dia(setan) ambil cincin tersebut darinya dan mengenakan ke jarinya. Kemudian dia pergi lalu duduk di atas kursi Sulaiman. Bala tentaranya, dari golongan manusia, jin, dan burung, datang dan berdiri dihadapannya seperti biasanya. Mereka menyangka orang tersebut adalah Sulaiman.

Tatkala Sulaiman keluar dari toilet, dia meminta cincinnya dari si hamba sahaya. Si hamba sahaya memandangi Sulaiman, dia melihat rupa Sulaiman telah berubah. Kemudian dia berkata, 'Kamu siapa?' Sulaiman menjawab, 'Aku adalah Sulaiman bin Dawud.' Si hamba sahaya berkata, 'Sulaiman telah mengambil cincinnya, lalu pergi dan duduk di atas kursinya.' Mendengar hal itu, Sulaiman tahu bahwa setan telah memperdaya si hamba sahaya lalu mengambil cincin darinya. Sulaiman lari ke padang pasir dan tempat sunyi. Dia merasakan lapar dan haus. Kadang-kadang dia meminta kepada orang-orang untuk memberinya makanan. Dia berkata, 'Aku adalah Sulaiman bin Dawud.' tetapi orang-orang tidak mempercayainya.

Sulaiman a.s. menjalani keadaan seperti itu selama empat puluh hari, dengan perut lapar, baju lusuh, dan tidak berpenutup kepala. Selanjutnya, dia datang ke sebuah pantai. Di sana dia melihat sejumlah nelayan. Kemudian dia menemani mereka dan bekerja bersama mereka.

Pada saat itu, Ashif bin Barkhaya berkata, 'Wahai Bani Israil. sesungguhnya cincin Sulaiman telah dicuri oleh setan. Sulaiman sendiri kabur menjauh dari kita.' Tatkala setan duduk di atas kursi mendengar perkataan itu, ia kabur menuju laut dan cincin yang ada di jarinya dilemparkan ke laut itu. Cincin tersebut kemudian ditelan seekor ikan yang ada di laut itu. Sulaiman diperintahkan oleh Allah untuk memburu ikan tersebut. Akhirnya, dia menemukan ikan yang menelan cincinnya itu. Di bedah perut ikan tersebut, ternyata di dalamnya ada cincin Sulaiman. Diambil cincin itu, kemudian dia kenakan ke jarinya, lalu sujud bersyukur kepada Allah. Ketika itu juga di berdiri lalu kembali ke kursinya dan duduk di atasnya.

Itulah firman Allah:

Dan Sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian dia bertobat (QS 38:34)

Wahab bin Munabbih mengatakan, penyebab diambilnya cincin dan dikembalikan kepada Sulaiman adalah dalam suatu peperangan Sulaiman menaklukan Raja Yunani. Raja tersebut dibunuh, kerajaan dan hartanya dikuasai dan anak-anaknya ditawan. Di antara anak-anak raja tersebut ada seorang anak gadis yang cantik tidak ada tandingnya. Sulaiman sangat mencintainya. Dia tidak sabar barang sesaat pun untuk berpisah dengannya. Kecintaan Sulaiman terhadapnya menyisihkan kepada istri-istrinya yang lain. Pada suatu hari, Sulaiman menemuinya. Dia menjumpainya sedang bersedih. Sulaiman berkata kepadanya, 'Ada apa denganmu?' Wanita itu menjawab,' Aku teringat kepada bapakku dan kerajaannya. Aku memohon kepadamu agar menyuruh beberapa jin untuk membuatkan patung bapakku sehingga setiap kali aku melihatnya kesedihanku bisa hilang.

Atas permintaan tersebut, Sulaiman menyuruh jin 'Ifrit yang bernama Shakhr al-Marid untuk membuatkannya. Maka, jin 'Ifrit itu membuat sebuah patung yang seperti bapaknya yang hampir saja bisa berbicara. Wanita itu mendandani patung tersebut dan memakaikannya mahkota dan berbagai perhiasan. Selanjutnya, apabila Sulaiman mengunjungi para tentaranya, wanita tersebut dan para hamba sahaya yang ada di sekelilingnya bersujud kepada patung itu. Hali itu terus-menerus dilakukan selama empat puluh hari, sementara Sulaiman tidak mengetahuinya. Kemudian berita tersebut sampai ke telinga Ashif bin Barkhaya, orang kepercayaan Sulaiman.

Suatu waktu, Ashif duduk di atas singgasana Sulaiman, dia memberikan petuah kepada orang-orang dan memuji semua nabi terdahulu dan tidak menyinggung-nyinggung sedikit pun tentang Sulaiman. Karena hal itu, Sulaiman berubah. Setelah Ashif beres dari majelisnya dan Bani Israil telah meninggalkan majelis tersebut, Sulaiman berkata kepada Ashif, 'Mengapa engkau tidak menceritakanku beserta sejumlah nabi yang engkau ceritakan?' Ashif menjawab, 'Bagaimana aku menceritakanmu, sementara di rumahmu ada berhala yang disembah sejak empat puluh hari karena seorang perempuan.' Setelah mengetahui alasan yang sebenarnya, maka Sulaiman memerintahkan untuk menghancurkan patung itu dan menghukum wanita tersebut.

Dia Sulaiman masuk ke tempat peribadatannya. Di sana, dia menangis dan menundukkan diri kepada Allah. Oleh karena itu, dia dicoba dengan hilangnya cincin dan dicopot kerajaannya dalam rentang waktu yang sama dengan waktu disembahnya berhala di rumahnya.

Abu Bakar al-Hafizh mengatakan, pada zaman Sulaiman, Bani Israil mengalami masa paceklik. Mereka pergi untuk meminta hujan. Sulaiman lewat ke hadapan seekor semut yang melemparkan diri di atas panggungnya dan mengangkat tangannya ke arah langit sambil berkata, 'Ya Allah, selamatkan kami sebab sesungguhnya kami adalah salah satu di antar makhluk-Mu yang lemah. Kami tidak memiliki kekuatan, oleh karena itu, jangan binasakan kami dan jangan siksa kami karena dosa-dosa yang dilakukan orang-orang selain kami.' Tatkala Sulaiman mendengar doa semut tersebut, Sulaiman berkata kepada Bani Israil,
'Pulanglah, kalian pasti akan diberi hujan disebabkan oleh doa dari yang lain.'
dodidananggie kos setiabudi bandung Updated at: 10:06 PM